3371 MDPL : Dua Kubah [Part 2]

Bermil-mil timur laut dari pesisir Pantai Selatan, tepat di tengah pulau Jawa terbentang diantara gugusan karya alam. Berdiri gagah berdampingan dengan saudara perempuannya bagai Merapi dan Merbabu , ia adalah Sumbing si Kawah Yang Tertidur tepat dihadapan gunung Sindoro. Mereka berdua adalah dua gunung yang mengapit jalan antar provinsi yang menghubungkan kota Temanggung dan kota Wonosobo, celah diantara gunung ini dijuluki Kledung Pass. Sumbing masih membara layaknya gunung api lainnya namun kawahnya tenang dan cekung tak terlihat magma\lava sedikitpun, entah dimana ia bergerak. Yang pasti tujuh anak dari lereng gunung Slamet akan menaklukan si Kawah Yang Tertidur! Here we go...

Cahaya cukup hangat menembus kilauan kaca berembun pagi itu, membangunkan kami seolah mengingatkan kami pada mimpi kami. Terlihat dua sosok asing yang sedang akrab berbicara dengan Adies, ya..mereka adalah dua leader kami yang berpengalaman dalam hal pendakian gunung. Mereka adalah Mas Ryan dengan jaket merahnya dan Mas Naufal dengan slayer bercak putih dikepalanya, mereka berdua bisa dibilang King of Mountains diantara kami yang masih newbie.  Tepat pukul 06:38 nasi goreng pesanan kami menjadi hidangan pembuka di hari yang besar ini, sembari absen kami makan bersama. 07:39 kami mengencangkan carrier dan berkumpul membentuk lingkaran untuk berdoa agar kami selamat sampai diatas sana lalu kembali dengan keberhasilan tak ternilai. Perjalanan dilakukan dengan berderet dengan tugas masing-masing seperti Nunu di penjaga, Adies di head, dan Mas Ryan memantau dibelakang serta memberi arah dari belakang. Begitu menjejakkan kaki bantalan gunung kami sudah merasa letih dan pesimis untuk melanjutkannya, kondisi jalan perkebunan yang terjal dan tanpa ampun memberikan rute yang menanjak. Baru setinggi rumah berlantai tiga kami sudah kehabisan nafas dan buru-buru mengambil minuman bervitamin, keringat mulai berkucuran. Tapi entah apa yang membuat seberat ini, kami iri pada para pengebun yang sudah lanjut usia masih hilir-mudik membawa keranjang dengan kuatnya, pemuda seperti apa kami ini? Tersulut dari semangat para pengebun kami tidak mau kalah dan saling membantu untuk satu mimpi kami.

Terlihat Aldy teman kami yang tampak letih dan enggan melanjutkan, kami menopangnya dan memberi semangat melalui pundaknya, Aku dan Anggi sempat bernyanyi "Naik-Naik Ke Puncak Gunung" disepanjang jalan setapak batu, namun semakin tinggi dan semakin terjal semakin pelan suara kami bernyanyi sehingga kami memutuskan untuk break sesaat dan menikmati Jus Kacang Ijo. Disela-sela break aku bertanya kepada Mas Ryan, dengan kepolosanku tentang gunung aku bertanya. "Mas ini masih jauh ya?" Dengan rada cepat Mas Ryan menjawab "Ini belum ada apa-apanya, masih jauh. Tapi dibawa santai aja". Aku kembali menikmati Jus Kacang Ijo ku. Peluit berbunyi tanda bahwa perjalanan kembali dimulai, melewati perkebunan beratus-ratus meter akhirnya pukul 10:55 kami sampai di POS I atau biasa disebut MALIM, inilah checkpoint pertama kami. Saatnya makan siang, terlihat Mas Ryan dan Mas Naufal menyiapkan paravin dan berbagai bekal untuk dihidangkan, dari kami beberapa ada yang sangat menikmati singgasananya seperti Aldy dan Cherly yang terlihat sangat nyaman duduk dikursi tanah dengan muka melepas lelahnya dan berusaha tersenyum saat difoto, Anggi yang sibuk membuat api dengan kayu ranting dan sisa-sisa sampah plastik yang ditinggalkan pendaki lain. Dibawah pohon Ahmar yang sedang menghabiskan nyaris setengah botol air dengan pede-nya makan kacang, dan kami bertiga Aku, Adies dan Nunu yang menikmati pemandangan jurang dengan berfoto-foto menghadap luasnya samudera udara dihadapannya.

Selesai menikmati nata de coco dan mie rebus kami melanjutkan perjalanan pada pukul 12:32. Kini saatnya melewati perhutanan dengan track yang cukup sempit dan pasti terjal, dijalan sempat berpapasan dengan pendaki lima tahunan dibawah rata-rata umur kami yang jalan turun dari atas menandakan bahwa mereka sudah berhasil sampai diatas sana. Melihat hal demikian aku berpikir, ternyata mimpi apapun tidak memandang siapapun untuk mewujudkannya, bahkan mereka yang seharusnya masih berangan-angan namun berhasil mewujudkannya, itu hebat. Semangat kembali mengalir lewat adrenalin dalam tubuhku, dengan modal janganlah melihat keatas tapi lihatlah didepanmu, apa yang kau lihat dan temui lalu lewatilah begitu seterusnya dan berkata "Hey ini akan mudah", percayalah.

Dijalan tiada henti-hentinya Ahmar membuat kami tertawa mulai dari tingkah konyolnya sampai adegan tidur disembarang tempat disaat kami break, dan percayalah break sering terjadi atas kehendaknya, haha. Tapi itu samasekali tidak masalah bagi kami, inilah kebersamaan inilah kekeluargaan. Dengan canda dan tawa kami melewati batu demi batu, tanah demi tanah dan debu demi debu. Dimana kami dihadapkan rute bekas jalan air yang curam, kami harus merangkak naik karena medan yang kami injak begitu licin berdebu dan tanah kering yang halus sehingga mudah menggoyangkan pijakan kami dan berakhir terpeleset. Langkah demi langkah kami perhatikan, berderet setiap mata kami tertuju pada langkah dan ranting semak untuk berpegangan. Kami saling bantu dan sedetail mungkin dalam menjaga alhasil kami berhasil melewati rintangan ini dan kembali menelusuri hutan sampailah di POS II pukul 14:35 untuk istirahat dan mendirikan sholat dhuhur dan ashar. Selesai itu, Anggi buru-buru membuat api untuk menjaga agar kami tetap hangat, ya dialah yang paling hobi membuat api diantara kami, sehingga aku menjulukinya Si Ahli Api. Terdengar alunan musik karya Alter Bridge seolah memecah kesunyian gunung, aku langsung melihat arah suara itu ternyata Mas Ryan dan Mas Naufal lah yang memutar lagu tersebut melalui speaker portable nya. Aku sedikit tertidur ringan saat itu, dan beberapa saat kemudian seseorang membangunkanku dan memulai perjalanan dihari yang mulai petang ini.

17:20 kami sampai diatas dataran berbukit yang kecil yang dan menanjak disisi atasnya menandakan selalu terjal di rute ini, Mas Ryan berasumsi bahwa inilah POS III namun aku lihat tidak ada satupun tanda yang menandakan bahwa ini adalah POS III, tapi banyak arang dan bekas api yang ditinggalkan pendaki lain, hal pasti mereka bermalam disini. Untuk memastikan aku melepas carrier lalu naik keatas dengan berjalan cepat dan melompat untuk mencari gerangan POS III yang sebenarnya. Hari semakin gelap nyaris terlihat binatang malam yang mulai aktif, sedikit takut aku pun turun dengan melompat dan kembali kebawah. Kami mendirikan dua tenda, satu disini dan satu beberapa meter diatasnya karena lahan yang tidak mencukupi, sehingga Aku, Adies, Anggi, Aldy, dan Nunu berada di tenda atas, sedangkan Mas Ryan, Mas Naufal, Ahmar dan Cherly bermalam di tenda bawah. Selesai mendirikan tenda, Anggi buru-buru membuat api dengan kelihaiannya api kembali menghangatkan kami, Aku dan Adies membubuhkan garam disekitar tenda membentuk garis lingkar yang mengelilingi tenda, hanya untuk berjaga-jaga dari tamu yang tak diinginkan, kemudian aku masuk ke tenda untuk berganti baju dan mengeluarkan persediaan makanan untuk dimasak dibawah.

Kami berlima turun kebawah untuk membantu membuat makanan, disini orang baru kami sudah mulai terlihat alter ego mereka diantara leader kami ada satu yang kurang berkenan, dia mulai menyuruh-nyuruh kami seolah dialah yang berkuasa dan menyindir kami. Oh ayolah ini hanya cara bertahan hidup bukan hubungan Bantara dan ade-ade Pramuka, yang benar saja. Biarlah, kami menikmati hidangan makan malam kami di bawah langit berbintang nan dingin, sembari melingkar dekat api unggun, - 20:10. Waktu hidangan selesai rencana pendakian besok akan dilakukan dinihari pukul 03:00 jadi dengan tujuan sampai puncak tidak terlalu siang. Tepat pukul 21:28 kami kembali ke tenda kami untuk tidur dan berhangat, karena Adies berkata "Lebih baik tidur sebentar tapi berkualitas dan nyenyak (hangat), daripada tidur lama tapi kedinginan tidak nyenyak (dingin)" itulah gunanya Sleeping bag bagi seorang pendaki, karena tidur adalah saat-saat penting untuk kembali membangun energi dan daya tahan. Alright, good night.

Saat mata terbuka sleeping bag, sarung tangan, balaclava, kantong plastik besar, jaket sudah terlepas dari tubuhku entah apa yang membuat aku seperti ini, bangun bangun kedinginan dan sadar bahwa ini adalah jam 05:22 !!. Dalam hati, "Hey apa yang terjadi? Bukannya kita harus mendaki pukul 03:00 tadi?". Terdengar suara Anggi dan Nunu diluar sana, aku pun keluar gerangan apa yang membuat mereka begitu histeris. Terbitnya matahari yang agung dan hamparan awan dibawah sana yang seolah membuat kami begitu tinggi dan tinggi, serta dihadapkan gunung Sindoro yang berdiri gagah dilautan udara. Sungguh indah dan agung wahai Engkau Sang Pencipta.


Tak menyiakan saat-saat berharga, kamipun mengambil kamera dan mengabadikan setiap detik bersama keindahan yang tak ternilai ini. Puas dengan apa yang kami lakukan, aku turun untuk mencari kayu bakar. Dengan balaclava menutup habis kepala dan mukaku, jaket tebal berwarna coklat, celana coklat, sarung tangan dan membawa kayu bakar dipinggang (dibopong) begitu aku naik keatas menuju tenda teman-teman menertawaiku dan mengataiku bahwa aku seperti Manusia Goa yang sedang mencari kayu bakar, karena melihat dandananku yang begini wajar mereka menertawaiku, haha. Biar saja nyatanya dingin jadi aku menutup habis tubuhku, keceriaan yang membuat hangat. Sampai atas Anggi kembali membuat api, dia bercerita bahwa semalam dia mendengar alunan musik jawa (gendingan) dari arah atas sekitar jam 03:00 dini hari, aku menyangkal "Ah mungkin itu radio para pendaki". Anggi bersikeras, "Mana ada orang nyalain radio dinihari di gunung gini" kemudian dia menanyakan hal ini pada yang lain, anehnya yang lain tidak mendengar apa-apa tadi malam. Dari mana suara itu berasal? Mungkinkah berasal dari Pestan?

Menindaklanjuti keterlambatan dan kemalasan yang terjadi (dasar anak muda) kami melanjutkan pendakian pukul 06:29 dengan sedikit bergegas karena sudah cukup siang. Kami meninggalkan carrier kami di tenda dan hanya membawa beberapa barang penting saja, dan yang pasti makanan dan minuman di satu carrier yang dibawa Mas Ryan, sungguh pejuang yang hebat dia ini. Tak lama berjalan kami mendapati tanda berwarna merah bertuliskan PESTAN dan dibawahnya di papan terpisah POS III. PESTAN alias Pasar Setan, ya itu yang orang sebut dan setiap gunung mempunyai Pestannya masing-masing, ternyata Pestan ini berada di POS III yang berisi habuk pasir dan tanaman tandus, dan tenda yang kami dirikan tadi malam bukanlah di POS III. Apa mungkin suara yang didengar Anggi tadi malam berasal dari sini? Entahlah.

Kali ini jalan yang harus kami lewati adalah jalan bandangan air dari atas, ibarat sungai inilah sungai diatas gunung yang mengalir deras dari atas menuju bawah, namun ini kering dan berkerikil-debu-pasir sehingga kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Cukup jauh jalan yang kami lewati hingga Aku dan Anggi berhenti dibawah bebatuan yang besar untuk berlindung dari sengatan Sang Surya dan memakan beberapa cemilan, disini Anggi sempat putus-asa dan berbicara padaku bahwa dia sudah tidak tahan lagi ingin mengakhiri pejalanannya, entah apa yang mengubahnya, namun aku berkata, "Inilah bagian terbaiknya, sesungguhnya bukan puncak yang akan kau rasakan lebih, tapi perjalanan dalam menggapainya, kau tidak boleh lepas dari semuaini. Percayalah kau tidak akan menyesalinya kelak. Ayo". Kami berdua kembali jalan dengan Anggi sedikit pelan di belakang, sedang aku beberapa meter di depannya, langkah demi langkah Anggi tertinggal bersama Ahmar. Aku terus dengan keatas bergabung dengan Adies dan Nunu.


Sampai dibebatuan kami kembali bergabung bersama dengan istirahat sebentar melihat Gunung Slamet yang begitu jauh nun disana. Dan inilah bagian tersulit kita benar-benar mendaki disini bebatuan yang terjal nyraris 90 derajat kemiringannya berusaha kami daki langkah demi langkah menuju cahaya, terlihat Watu Kotak itulah salah satu checkpoint kami dimana kami sudah dekat dengan puncak, bahu membahu, rentangan tangan demi rentangan kami kayuh untuk sampai tiga kaki diatas kami, karena salah sedikit kami bisa terguling. Kembali melewati jalan air, kali ini lebih gila lagi. Ini sempit selebar dua kaki dan murni batu-batuan tajam layaknya got di gunung, disini ada kisah lucu dimana saat itu posisi aku sekitar lima meter diatas Anggi, dia tiba-tiba saja membuang gas sisa karena angin bertiup dari bawah ke atas menuju puncak jadi aku yang tepat diatasnya Anggi, mau tidak mau harus menghirup aroma gas yang tidak menyenangkan ini. Apalagi dia tidak buang air sejak dua hari pendakian bayangkan zat sisa yang termampatkan menjadi gas, sungguh tidak layak untuk dinikmati. Aku pontang-panting menutupi hidung padahal sedang ngos-ngosan membutuhkan banyak oksigen, Anggi hanya tertawa terbahak-bahak dibawah. Disela-sela bau dan kekonyolan ini tanpa disadari aku menemui susuatu yang sangat langka, ya.. itu adalah Edelweiss. Bunga yang hanya ditemukan di gunung, ternyata disamping kejadian tidak enak ada keindahan tepat disampingku, Thanks God.

08:47 kami sampai di POS IV, untuk beristirahat dan makan beberapa potong sandwich. 09:34 kembali jalan menuju sesuatu yang sudah dekat dengan kami. Tidak ada yang namanya jalan datar untuk waktu yang lama semua hanyalah terjal dan menanjak menuju cahaya.


Hanya batu dan rumput liar yang menjadi pijakan kami, lepas itu hanya udara dan jurang. Cherly sungguh tanggung dalam pendakian ini dia rela merayap-rayap demi menggapai level selanjutnya. Sekitar setengah jam kami sampai di daerah yang biasa disebut Tanah Putih, dimana medan ini berwarna putih hasil dari kapur gunung yang menjadi bahan dasar tanah ini. Ini membuatku merasa sedang melintasi Negeri Dongeng. Melewati pohon-pohong tandus dan jalan air tandus berwarna putih kapur aku sendirian terpisah dari kawanan, dimana Adies dan Mas Ryan sudah jauh diatas dan sisanya dibawahku semua, aku bergabung dengan pendaki lain agar tidak tersesat, dan sedikit menyapa pada setiap mereka.

Aku melihat langkahku yang sudah mulai panas, tiada tepat untuk berhenti, ku rasakan apa yang ku cari sudah didepan mata, apa yang ku impikan sudah nyaris-dan-sedang terwujud. Aku membuang nafas dengan keras dan melihat keatas dengan merengkuh langkah ku, aku melihat orang-orang sedang berdiri dan bangga diatas sana. Aku yakin itulah tujuanku, aku mengambil ponsel ku dan menyalakan kamera video, aku membuat log hitungan mundur langkah demi langkah. Sedikit ucapan dalam video itu, kamera ponsel itu merekam langkah demi langkah menuju satu tujuan. Bermil-mil barat melewati kota, desa, kebun, hutan, batu, pasir, amarah, lelah, dahaga, lapar, keputus-asaan, dingin dan sengatan panas matahari. Inilah PUNCAK GUNUNG SUMBING 3371 METER DIATAS PERMUKAAN LAUT nan agung. Aku adalah orang ketiga dalam rombongan setelah Mas Ryan dan Adies mencapai puncak lebih dulu, tanpa mematikan kamera aku berjabat kepada meraka dan menyorotkan kamera pada diri sendiri, Inilah Aku!.

Merentangkan kedua tangan, menengadahkan kepala keatas, dan memejamkan mata. Rasakan terpaan angin dingin dan hangat menyengat matahari menyapu mukaku, menghirup nafas dalam-dalam dan berkata "Allahuakbar !" sungguh agung Engkau menciptakan tanpa sedikitpun keburukan, indah dan indah ya Allah. Terimakasih wahai Tuhanku karena Engkau telah mengizinkanku menikmati ciptaanmu dengan gagah berdiri tinggi disini. Membuka mata dan tampaklah kubah kembarnya berdiri sejajar, dengan aku berdiri diatasnya seolah bagai dua kubah yang menopang pijakanku, dengan bangga aku berdiri disini, berdiri di kubah ini, berdiri di tanah ini, berdiri di udara ini, untuk selalu menatap Sang Luas dan membuka pikiran akan luasnya negeri ini. Tak layaklah engkau berpikir sempit dalam hidup, bukalah mata dan pikiranmu.



Selang beberapa saat teman-teman kami menyusul dan akhirnya kesembilan dari kami tepat sampai di puncak. Adies mengeluarkan Sang Merah Putih, dan mengibarkannya ditiang dari kayu panjang, berkibar dengan gagah dipuncak Merah Putihku, kami pun hormat satu persatu dan memandang lebih lama Sang Merah Putih diudara tertinggi saat itu. Sesaat kabut putih menerpa puncak sehingga membuat sekitar mendadak dingin dan putih sehingga membuat kami tidak bisa memandang apa-apa selain kabut putih yang membumbung, sesaat seolah keindahan sirna. Namun angin dari utara meniup semua kabut dan terciptalah keindahahan kembali dengan dihiasi burung-burung beterbangan dengan bebasnya. Puncak Sumbing terbagi-bagi, satu puncak batu, dan satu puncak Buntu dimana puncak Buntu ini adalah titik tertinggi. Dan kawah didalamnya membentuk seperti bagan yang terkesan seperti mati, namun sebenarnya dia masih hidup hanya mengeluarkan kapur dan belerang dibawah sana, seperti kolam susu yang mengeras. Tapi itu tidak akan sirna kawah hanya seolah tertidur dibawah sana dan tenang.

Terlihat di arah timur berdiri berdampingan gunung Merapi dan Merbabu dan kejauhan pula gunung Slamet masih menampakan ke agungannya bahwa ialah gunung tertinggi dan terbesar di Jawa Tengah. Kami mengabadikan momen bersama dengan harapan ini adalah awal mimpi kita dan masih banyak mimpi-mimpi yang harus dicapai, kiranya seperti ini perjalanan menggapai tujuan/impian, terjal dan menanjak pasti sudah menjadi makanan sehari-hari, hanya kita bagaimana menopang dan memotivasi diri hingga akhirnya sampai diatas sana. Ingatlah, bagian terbaik bukanlah saat berhasil, melainkan rentang perjalanan yang mengukir setiap langkah menuju impian. Be strongest and highest!

Kisah ini akan berlanjut dibagian ketiga dari trilogy 3371 MDPL ...




3371 MDPL [Part 2] : The Two Domes


~Sang Binasa
April 2nd, 2014

No comments:

Post a Comment